BONE– Di balik ambisi besar menjadikan Bandara Arung Palakka sebagai gerbang baru konektivitas Sulawesi Selatan, ada satu nama yang kini berdiri di garis depan percepatan: Andi Muhammad Iqbal Waliono.
Penugasan itu datang langsung dari Gubernur Provinsi Sulsel H. Andi Sudirman Sulaiman sebuah mandat yang bukan hanya soal administrasi, tetapi juga tentang kepercayaan dan ketegasan. Di hadapan Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, Andi Muhammad Iqbal diberi tenggat waktu yang tak panjang: dua minggu untuk menuntaskan seluruh administrasi pembebasan lahan Bandara Arung Palakka. Sebuah misi yang terdengar sederhana, namun sesungguhnya sarat kompleksitas.
Bagi birokrasi Kabupaten Bone, sosok Andi Muhammad Iqbal bukanlah wajah baru. Ia adalah representasi aparatur yang tumbuh dari bawah memahami sistem bukan hanya dari teori, tetapi dari pengalaman panjang.
Kariernya dimulai di Badan Keuangan dan Aset Daerah, tempat ia mengasah ketelitian dan integritas hingga dipercaya sebagai Kepala Bidang Anggaran. Jabatan itu bukan sekadar posisi teknis, melainkan ruang pembuktian atas kapasitas manajerialnya.
Kepercayaan pun terus datang. Pada era kepemimpinan H. Andi Fahsar M Padjalangi, Iqbal diamanahkan sebagai Camat Tanete Riattang Timur. Di wilayah yang dinamis, ia dikenal sebagai figur yang dekat dengan masyarakat mendengar, merespons, dan bergerak cepat.
Memasuki masa kepemimpinan duet H. Andi Asman Sulaiman dan H. Andi Akmal Pasluddin, kiprah Iqbal justru semakin intens.
Hari pertama masuk kerja pasca Idul Fitri, Rabu, 25 Maret 2026, ia dipercaya sebagai Camat Tanete Riattang wilayah yang menjadi wajah Kota Watampone. Namun kepercayaan itu tak berhenti di sana.
Belum genap sepekan, ia kembali diberi amanah sebagai Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kabupaten Bone. Sebuah posisi strategis yang kini menjadi pusat perhatian, seiring dorongan percepatan pembangunan daerah.
Momentum penting itu terjadi di rumah jabatan Bupati Bone, Selasa, 7 April 2026. Dalam forum strategis tersebut, Gubernur Andi Sudirman Sulaiman menyampaikan instruksi yang lugas. Masih terdapat sekitar 30 bidang lahan yang belum tuntas secara administratif, meski anggaran pembebasan lahan sebesar Rp30 miliar telah tersedia sejak dua tahun terakhir. “Laporan masih ada 30 bidang yang belum. Saya minta alas haknya dari pemilik segera diselesaikan,” tegasnya.
Perluasan Bandara Arung Palakka bukan sekadar proyek infrastruktur. Ia adalah bagian dari visi besar membuka keterisolasian wilayah dan mempercepat denyut ekonomi. Dengan target runway sepanjang 2.600 meter, bandara ini diproyeksikan mampu didarati pesawat berbadan besar seperti Boeing.
Jika terealisasi, rute penerbangan akan melampaui jalur yang ada saat ini—Bone menuju Makassar, Kendari, Morowali, hingga Balikpapan menuju konektivitas yang lebih luas, termasuk Bone–Jakarta bahkan peluang penerbangan internasional seperti Bone–Jeddah.
Bagi Iqbal, dua minggu bukan sekadar hitungan hari. Itu adalah ujian kepemimpinan, koordinasi, dan keteguhan dalam menavigasi persoalan klasik: pembebasan lahan. Namun ia memilih optimisme. “Insya Allah dalam dua minggu ini kita tuntaskan, sehingga proses perluasan runway bisa segera berjalan,” ujarnya.
Di balik kalimat singkat itu, tersimpan kerja besar menghubungkan kepentingan masyarakat, pemerintah daerah, hingga kebijakan provinsi dalam satu garis yang sama.
Langkah ini bukan berdiri sendiri. Gubernur juga menegaskan bahwa persoalan pembebasan lahan menjadi kunci banyak program strategis, termasuk pembangunan SMA Taruna Nusantara di Bone. Artinya, keberhasilan misi ini akan menjadi preseden penting bagi percepatan pembangunan lainnya.
Dan di tengah semua itu, Iqbal berdiri sebagai simpul penggerak mengubah tumpukan berkas menjadi jalan bagi pesawat untuk lepas landas. Sebuah cerita tentang kepercayaan, tanggung jawab, dan masa depan Bone yang tengah dipersiapkan, dua minggu dari sekarang. (*)



Tinggalkan Balasan