BONE– 20 Februari 2026 menjadi penanda satu tahun kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman dan H. Andi Akmal Pasluddin. Tepat setahun lalu, Kamis 20 Februari 2025, pasangan yang mengusung tagline BerAmal itu resmi dilantik di Istana Negara oleh Presiden RI, Prabowo Subianto.

Dari momen sakral di jantung pemerintahan pusat itu, perjalanan kepemimpinan BerAmal kini telah menapak satu tahun. Waktu yang oleh sebagian kalangan disebut masih “seumur jagung”, namun cukup untuk memunculkan jejak perubahan yang dirasakan masyarakat.

Sektor yang paling kasatmata adalah infrastruktur jalan. Dari pusat Kota Watampone hingga pelosok desa, perbaikan jalan menjadi wajah awal pemerintahan BerAmal.

Sepanjang 2025, Pemerintah Kabupaten Bone mencatat penanganan total 31 kilometer jalan. Anggaran sebesar Rp76,45 miliar dari APBD Kabupaten Bone digelontorkan untuk peningkatan dan rehabilitasi 17,53 kilometer ruas jalan. Tak berhenti di situ, bantuan keuangan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan senilai Rp48,75 miliar kembali menguatkan upaya perbaikan sepanjang 13,47 kilometer.

Ruas-ruas strategis seperti Jalan Urip Sumoharjo, Toro–Panyula, Sungai Brantas, hingga akses Bandara Arung Palakka mendapat sentuhan rehabilitasi. Jalan penghubung antar kecamatan seperti Pabaccue–Lonrong, Bakunge–Lonrong, dan Lapeccang–Lonrong pun ikut dibenahi, memperkuat konektivitas wilayah.

Ketua Fraksi Nasdem DPRD Bone, H. Muslimin, menilai pembangunan yang dihadirkan telah menunjukkan keadilan pembangunan.

“Infrastruktur jalan misalnya, kita bisa lihat mulai dari kota sampai ke pelosok desa, diperbaiki. Ruas jalan yang selama puluhan tahun tidak tersentuh, di bawah pemerintahan BerAmal mendapat intervensi langsung,” ujarnya.

Pernyataan senada disampaikan Anggota DPRD Bone Fraksi Nasdem, Abulkhaeri. Ia menyebut komitmen pelayanan publik dan program pro-rakyat telah memberi manfaat nyata, terutama pembangunan infrastruktur jalan.

Ketua Fraksi Golkar DPRD Bone, Andi Muh Idris Alang, juga menegaskan bahwa kerja nyata telah terlihat di berbagai sektor.

“Pertanian, infrastruktur, UMKM, peternakan, industri semua bergerak maju. Insya Allah 2026 ini banyak capaian keberhasilan yang bisa ditorehkan,” katanya optimistis.

Tak hanya jalan, pelaku UMKM juga merasakan dampaknya. Pemerintah daerah gencar memberikan bantuan sarana dan prasarana untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing Industri Kecil Menengah (IKM). Akses permodalan yang lebih mudah menjadi angin segar bagi pelaku usaha kecil.

Langkah ini sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bone tahun 2026 yang diperkirakan meningkat signifikan. Penguatan sektor UMKM dipadukan dengan digitalisasi ekonomi melalui program Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (P2DD), mendorong tata kelola yang lebih efisien dan transparan.

Salah satu motor penggerak ekonomi yang dinanti adalah rencana pembangunan pelabuhan umum di Desa Bone Pute, Kecamatan Tonra, oleh Tiran Nusantara Group dengan nilai investasi Rp1,7 triliun.

Pelabuhan ini diproyeksikan menjadi pusat logistik baru yang mendukung industri nikel serta membuka lapangan kerja dalam skala besar. Jika terealisasi sesuai rencana, investasi ini akan menjadi tonggak penting transformasi ekonomi Bone.

Di sisi lain, potensi sektor unggulan terus dioptimalkan. Bone dikenal sebagai salah satu daerah dengan produksi gabah/beras tertinggi di Sulawesi Selatan dan pusat peternakan rakyat di kawasan timur Indonesia, khususnya sapi dan ayam. Sinergi pertanian, peternakan, dan infrastruktur menjadi fondasi pertumbuhan yang berkelanjutan.

Kabupaten Bone juga terpilih sebagai sampel Sensus Ekonomi 2026, menegaskan posisi strategisnya dalam peta perkembangan ekonomi regional.

Namun, perjalanan tidak tanpa tantangan. Data BPS mencatat inflasi di Watampone pada awal 2026 sebesar 0,91 persen (m-to-m) dan 4,33 persen (y-on-y). Angka ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

Langkah pengendalian inflasi, penguatan pasokan pangan, serta stabilisasi distribusi menjadi bagian dari strategi menjaga pertumbuhan tetap inklusif.

Praktisi sosial Rahman Arif melihat satu hal yang menonjol dari kepemimpinan BerAmal: keadilan pembangunan.

“Visi Maberre (Mandiri, Berkeadilan, Berkelanjutan) betul-betul diaplikasikan. Wilayah yang pada Pilkada lalu BerAmal kalah, justru mendapat porsi pembangunan besar. Itu karena bupati menerapkan skala prioritas,” ujarnya.

Apresiasi juga datang dari Anggota KPU Bone, Zainal, yang menilai komitmen pelayanan publik terus diperlihatkan, sembari berharap capaian itu terus berlanjut untuk Bone yang lebih baik.

Satu tahun memang bukan waktu yang panjang untuk menilai seluruh arah kepemimpinan. Namun, dari jalan yang mulai mulus, UMKM yang tumbuh, hingga rencana investasi triliunan rupiah, kepemimpinan BerAmal telah meletakkan fondasi.

Dari Istana Negara hingga lorong-lorong desa, perjalanan itu masih panjang. Tahun kedua akan menjadi ujian konsistensi: apakah fondasi ini mampu menjelma menjadi lompatan besar menuju Bone Maberre yang mandiri, berkeadilan, dan berkelanjutan. (*)