BONE– Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., bersama Ketua Tim Penggerak PKK Bone Hj. Maryam Andi Asman melakukan ziarah makam keluarga pada Minggu, 15 Februari 2026. Momen tersebut bukan sekadar agenda pribadi, tetapi juga perjalanan batin yang sarat makna menyambung doa kepada kedua orang tua sekaligus mengenang sosok anak tercinta yang telah lebih dahulu berpulang.

Di antara deretan nisan yang sunyi, langkah sang bupati terlihat lebih pelan. Ia menundukkan kepala, memanjatkan doa dengan khidmat, seolah menghadirkan kembali kenangan masa lalu yang tersimpan rapi di hati seorang ayah. Ziarah itu menjadi ruang refleksi tentang hidup, kehilangan, dan ketabahan.

Pada kesempatan itu, Bupati Bone juga berziarah ke makam putri tercintanya, Almarhumah A. Aurelsyafira, anak pertama yang lahir pada 20 Maret 2005 dan wafat pada 13 Juli 2010 akibat kecelakaan. Kepergian sang buah hati meninggalkan luka mendalam, namun sekaligus menjadi pelajaran hidup yang tidak pernah dilupakan.

Dengan suara bergetar, ia mengenang putrinya sebagai sosok anak yang pintar, dewasa, dan penuh perhatian. Bahkan di usia yang masih belia, sang anak kerap memberikan nasihat dan mengingatkan orang tuanya tentang banyak hal.

“Dia anak yang pintar, dewasa sikapnya. Sering menasehati dan mengingatkan saya,” kenangnya penuh haru.

Di balik kenangan itu, tersimpan kisah sederhana yang begitu membekas di hatinya. Semasa sekolah, sang bupati selalu melarang putrinya mengonsumsi makanan instan demi menjaga kesehatan. Bekal yang dibawa ke sekolah pun sering kali hanya berupa pisang goreng sebuah bentuk kasih sayang yang kini menjadi kenangan tak ternilai.

“Saya selalu larang makan mi instan. Kalau bawa bekal ke sekolah, biasanya makan pisang goreng. Semua itu saya lakukan demi kesehatannya. Tapi ternyata usianya tidak panjang,” ungkapnya.

Namun di balik duka yang mendalam, terselip hikmah yang terus ia pegang hingga kini. Bagi Bupati Bone, kepergian putrinya menjadi pelajaran berharga tentang kesabaran, ketegaran, dan bagaimana menerima takdir dengan lapang dada.

“Anak saya ini memberikan pembelajaran kepada saya untuk menjadi orang yang lebih sabar,” tuturnya lirih.

Ziarah makam itu bukan sekadar ritual mengenang, tetapi juga pengingat bahwa setiap manusia memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Di tengah tanggung jawab besar sebagai pemimpin daerah, tersimpan sisi kemanusiaan seorang ayah yang tetap merawat cinta dan kenangan. (*)