BONE– Sebuah momen penuh makna terjadi di jantung Kabupaten Bone. Dengan sapuan kuas yang tenang namun sarat simbol, Bupati Bone secara resmi melakukan pengecatan pada ukiran gelar Radja Palacca, Sabtu (14 Februari 2026). Prosesi sederhana namun emosional itu menjadi penanda berakhirnya seluruh rangkaian restorasi dan pengecatan ulang monumen legendaris Arung Palakka — ikon sejarah yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat Bone.

Patung Arung Palakka bukan sekadar karya seni yang berdiri kokoh di ruang publik. Ia adalah simbol harga diri, perjuangan, dan identitas masyarakat Bone. Namun perjalanan waktu meninggalkan jejaknya. Cat yang mulai memudar dan beberapa titik korosi sempat membuat kegagahan monumen ini perlahan memudar dari pandangan.

Kesadaran akan pentingnya menjaga warisan sejarah itu mendorong pemerintah daerah memulai proses pemugaran sejak 24 Januari 2026. Selama tiga pekan, restorasi dilakukan secara cermat, mulai dari penambalan bagian patung yang rusak hingga pengecatan ulang menggunakan material khusus yang mampu bertahan terhadap perubahan cuaca ekstrem. Pada 14 Februari 2026, seluruh proses akhirnya dinyatakan rampung.

Sapuan kuas simbolik yang dilakukan Bupati Bone menjadi sentuhan akhir sekaligus pesan kuat: sejarah harus dirawat, bukan sekadar dikenang.

Nama Arung Palakka atau La Tenritatta tercatat dalam sejarah sebagai pemimpin visioner yang memiliki kedekatan batin dengan rakyatnya. Ia bukan sekadar raja yang memerintah dari singgasana, tetapi sosok yang memahami langsung denyut penderitaan masyarakatnya.

Semangat perjuangannya lahir dari keinginan luhur untuk membebaskan kaumnya dari penindasan dan kesengsaraan. Karena itu, monumen ini lebih dari sekadar simbol masa lalu; ia adalah pengingat tentang keberanian, pengabdian, dan cinta seorang pemimpin kepada rakyatnya.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Bone menegaskan bahwa pemugaran monumen bukanlah proyek estetika semata. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi wujud nyata dari visi pembangunan Bone Mabberre — Mandiri, Berkeadilan, dan Berkelanjutan.

Mandiri, tercermin dari kemampuan daerah merawat dan menghargai warisan sejarahnya sendiri.
Berkeadilan, diwujudkan melalui hadirnya ruang publik yang kembali layak dinikmati oleh seluruh masyarakat.
Berkelanjutan, terlihat pada upaya menjaga nilai perjuangan sejarah agar terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Menurutnya, merawat monumen berarti merawat ingatan kolektif tentang perjuangan dan nilai-nilai kebangsaan yang menjadi fondasi pembangunan daerah.

Kini, monumen Arung Palakka kembali berdiri gagah. Warna-warna baru mempertegas detail ukiran dan menghadirkan aura kebanggaan yang segar bagi warga maupun para pengunjung. Di tengah laju modernisasi, keberadaan monumen ini menjadi penanda bahwa Bone tidak pernah melupakan akarnya.

Lebih dari sekadar patung yang diperbarui, restorasi ini menjadi simbol tekad pemerintah daerah menjaga marwah sejarah dan memperkuat identitas budaya. Dari sapuan kuas terakhir itu, lahir pesan yang sederhana namun dalam: membangun masa depan harus dimulai dengan menghormati masa lalu. (*)