BONE– Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin melakukan audiensi dengan Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM, pada Jumat, 13 Februari 2026, di Rumah Jabatan Bupati Bone. Pertemuan tersebut menjadi langkah awal kolaborasi akademik dan pemerintah daerah dalam menangani persoalan kesehatan anak, khususnya stunting, di Kabupaten Bone.

Audiensi dipimpin oleh Prof. Dr. dr. Aidah Juliati A. Baso, Sp.A(K), Sp.GK, yang menegaskan bahwa kehadiran pihaknya merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.

“Kedatangan kami ke Bone ini dalam rangka pengabdian kepada masyarakat. Saat ini isu stunting masih cukup tinggi. Kami merasa berkewajiban untuk turun langsung melihat kondisi riil di lapangan, mengukur ulang, dan memastikan apakah data yang ada sudah sesuai,” ujar Prof. Aidah.

Ia menjelaskan, tidak semua anak bertubuh pendek dapat dikategorikan stunting. Menurutnya, masih terdapat kesalahpahaman di masyarakat yang menganggap setiap anak pendek pasti mengalami stunting, padahal faktor genetik juga berpengaruh.

“Pendek belum tentu stunting. Bisa saja karena faktor genetik, bukan karena masalah nutrisi atau asupan gizi. Inilah yang ingin kami klarifikasi melalui pengukuran dan evaluasi ulang agar tidak terjadi overdiagnosis,” jelasnya.

Sebagai bentuk konkret pengabdian, Departemen Ilmu Kesehatan Anak akan menggelar tiga kegiatan paralel yang direncanakan berlangsung pada 17–18 April 2026, yakni bakti sosial pemeriksaan kesehatan anak, workshop, serta simposium stunting. Tim yang turun langsung merupakan dosen dan dokter spesialis anak.

Kegiatan akan dipusatkan di beberapa kecamatan dengan angka stunting tertinggi, termasuk melalui Puskesmas setempat. Selain pemeriksaan dan pengukuran ulang, tim juga akan melakukan penyuluhan kepada masyarakat serta pelatihan bagi kader Posyandu, bidan, dan tenaga kesehatan Puskesmas.

“Kami akan melibatkan kader Posyandu dan tenaga kesehatan di lapangan. Harapannya, setelah kegiatan ini, pemahaman tentang stunting menjadi lebih tepat dan penanganannya lebih terarah,” tambahnya.

Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menyatakan bahwa persoalan gizi anak dan stunting saat ini menjadi salah satu fokus utama Pemerintah Kabupaten Bone.

“Atas nama pemerintah daerah, kami sangat mengapresiasi kehadiran jajaran Fakultas Kedokteran Unhas. Kami berharap dari hasil pengabdian ini nantinya ada rekomendasi konkret bagi pemerintah daerah, khususnya terkait pola hidup dan pola asuh masyarakat,” ungkap Bupati.

Ia menegaskan, pemerintah daerah terbuka terhadap masukan berbasis akademik sebagai dasar penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah, menurutnya, menjadi kunci dalam upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Bone.

Tak hanya itu, Bupati juga menegaskan bahwa kehadiran Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Unhas harus benar-benar menjawab kebutuhan riil masyarakat, bukan sekadar memenuhi selera atau tren semata.

“Kita ingin pemanfaatannya tepat, bukan hanya ada secara administratif,” tegasnya.

Bupati juga menyoroti pentingnya penelitian tentang gaya pengasuhan anak di Bone. Ia menilai, perubahan sosial dan perkembangan teknologi membawa dampak besar terhadap tumbuh kembang anak.

“Penyakit anak, termasuk dampak penggunaan handphone, harus disosialisasikan secara masif,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa sasaran intervensi kesehatan anak tidak hanya terbatas pada balita, tetapi mencakup seluruh rentang usia anak dari 0 hingga 18 tahun. Edukasi mengenai penggunaan gawai, pola makan, hingga kesehatan mental anak perlu menjadi perhatian bersama antara pemerintah, tenaga kesehatan, sekolah, dan orang tua.

Sebagai bagian dari inovasi sosial, pemerintah daerah juga mendorong program Lomba Lorong Bugis (Bunga dan Gizi) sebagai langkah konkret dalam penanganan stunting. Program ini tidak sekadar mempercantik lingkungan, tetapi juga menanamkan kesadaran akan pentingnya gizi keluarga dan ketahanan pangan berbasis rumah tangga.

Melalui pendekatan berbasis lorong atau komunitas kecil, masyarakat diajak menanam tanaman bergizi, memanfaatkan pekarangan, serta membangun budaya hidup sehat dari lingkungan terdekat.

Langkah ini sejalan dengan visi menjadikan Bone sebagai daerah yang kuat secara pangan dan kesehatan. Apalagi, secara geografis Bone dianugerahi kekayaan alam yang melimpah — laut yang luas, pegunungan yang subur, serta potensi pertanian yang besar.

“Bone ini kaya. Ada laut, ada gunung. Tinggal bagaimana kita mengelola dan memanfaatkannya untuk kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.

Melalui sinergi yang tepat sasaran, edukasi pengasuhan anak berbasis riset, serta gerakan sosial berbasis komunitas, Pemerintah Kabupaten Bone optimistis mampu menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas generasi masa depan. (*)