Bone — Suasana Aula Lamellong Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, Jumat siang (7/11/2025), tampak berbeda dari biasanya. Ratusan tenaga pendidik dari berbagai tingkatan—PAUD, SD, hingga SMP—tampak antusias menyimak paparan dari jajaran Satuan Lalu Lintas Polres Bone. Hari itu, mereka bukan hanya guru di ruang kelas, tapi calon “agen perubahan” di jalan raya.

Kegiatan bertajuk Sosialisasi Peningkatan Pemahaman dan Kesadaran Tertib Lalu Lintas bagi Peserta Didik dan Tenaga Pendidik ini merupakan kolaborasi antara Satlantas Polres Bone dan Dinas Pendidikan Kabupaten Bone. Langkah ini diambil sebagai upaya menekan angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pelajar, fenomena yang kian menjadi perhatian serius.

Kasat Lantas Polres Bone AKP Musmulyadi, dalam sambutannya, menegaskan pentingnya peran tenaga pendidik dalam menanamkan nilai-nilai disiplin berlalu lintas sejak dini.

“Guru memiliki peran strategis. Mereka bukan hanya pendidik di sekolah, tetapi juga teladan bagi anak-anak dalam bersikap di jalan. Melalui edukasi dari guru, kita berharap lahir generasi yang sadar keselamatan,” ujarnya.

Dalam sesi sosialisasi, para guru mendapatkan pembekalan seputar aturan dasar berlalu lintas, bahaya pelanggaran, serta etika berkendara yang aman. Tak berhenti di situ, kegiatan juga diwarnai dengan diskusi interaktif seputar isu-isu aktual seperti usia minimal mengemudi dan budaya disiplin di jalan raya.

Menurut AKP Musmulyadi, usia pelajar merupakan kelompok rentan terhadap kecelakaan lalu lintas. Karena itu, pendidikan tentang keselamatan harus dimulai dari lingkungan sekolah.

“Kita ingin memastikan pesan keselamatan ini berkelanjutan. Guru menjadi perpanjangan tangan kami untuk membangun kesadaran kolektif,” tambahnya.

Sementara itu, sejumlah tenaga pendidik mengaku mendapatkan banyak wawasan baru. Mereka berkomitmen membawa semangat tertib berlalu lintas ke dalam kegiatan belajar mengajar.

Di akhir kegiatan, semangat kolaborasi tampak menguat. Polisi dan guru saling berjanji menjaga generasi muda Bone agar lebih aman di jalan. Bukan sekadar kampanye, tapi gerakan bersama—menjadikan keselamatan sebagai budaya sejak bangku sekolah. (*)