Bone – Lapangan Merdeka Watampone berubah menjadi ruang perjumpaan lintas iman pada Sabtu malam, 14 Februari 2026. Dalam suasana hangat penuh kebersamaan, Konser Lintas Agama bertema “Keberagaman Agama dalam Harmoni Budaya” menghadirkan pesan kuat tentang toleransi, persatuan, dan kekuatan seni sebagai bahasa universal yang mampu merangkul semua perbedaan.
Ribuan masyarakat dari berbagai latar belakang memadati kawasan pusat kota itu. Mereka datang bukan hanya untuk menikmati pertunjukan, tetapi juga merasakan atmosfer kebersamaan yang jarang ditemukan dalam ruang publik. Malam itu, musik, budaya, dan keyakinan bertemu dalam satu panggung yang sama menciptakan harmoni yang hidup dan terasa nyata.
Dr. Sn. Ichsan, S.Pd., M.Sn selaku penggagas kegiatan mengungkapkan bahwa konser ini melibatkan sekitar 160 penampil yang terdiri dari pelajar lintas agama, baik Muslim maupun non-Muslim. Menurutnya, kegiatan ini menjadi wadah penyaluran potensi generasi muda sekaligus bagian dari penguatan ekonomi kreatif di daerah.
“Konser ini kami rancang sebagai ruang perjumpaan yang otentik. Seni memiliki kekuatan transformatif untuk merawat kebinekaan dan memperkuat kohesi sosial. Harmoni lahir bukan karena semua nada sama, tetapi karena perbedaan itu disusun dengan saling menghargai,” ujarnya.
Panggung konser menghadirkan berbagai penampilan yang menggugah emosi. Orkestra Santri Al Ikhlas Ujung tampil membawakan komposisi bernuansa religius dan kearifan lokal, memadukan denting biola, alat musik tiup, serta ritme perkusi tradisional. Sementara itu, paduan suara lintas agama menyanyikan lagu-lagu bertema persaudaraan dan budaya, menyuarakan pesan bahwa iman dan tradisi bisa berjalan beriringan tanpa kehilangan identitas masing-masing.
Penampilan lainnya datang dari Saoraja Art, Unilampa, dan Ninu-Ninu yang menampilkan eksplorasi seni tradisi dengan sentuhan kontemporer. Koreografi yang dinamis, kostum etnik, serta tata artistik yang kuat memperlihatkan wajah kebudayaan Bone yang inklusif sekaligus adaptif terhadap perkembangan zaman.
Konser ini juga mendapat apresiasi dari Balai Pelestarian Budaya Sulawesi Selatan, Kementerian Kebudayaan. Andi Irfan Syam menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini sejalan dengan semangat Dana Indonesiana yang mendorong lahirnya ruang inklusif bagi generasi muda.
“Konser ini sangat baik karena mengangkat nuansa toleransi dalam beragama. Bone tahun ini juga akan menggelar Festival Gau Maraja Lappoase, sehingga kegiatan seperti ini bisa disinergikan. Kami berharap kegiatan budaya yang memperkuat kebersamaan seperti ini terus berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM turut mengapresiasi terselenggaranya konser lintas agama tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mewujudkan Bone Berkeadilan melalui ruang dialog dan kebersamaan antarumat beragama.
“Keberagaman harus menjadi kekuatan. Kita duduk bersama dari berbagai lintas agama, dan nilai kebhinekaan itu juga kami terapkan dalam struktur birokrasi. Meski mayoritas Islam, kami tetap memberi ruang bagi ASN non-Muslim untuk menduduki jabatan strategis. Semangat ini ingin kami dorong hingga ke tingkat desa,” ungkapnya.
Menurut Bupati, konser ini tidak hanya memberi ruang kreativitas bagi anak muda, tetapi juga membawa dampak ekonomi. Kehadiran ribuan masyarakat turut menggerakkan roda perekonomian, terutama bagi pelaku UMKM pra-sejahtera yang berjualan di sekitar lokasi kegiatan.
Malam itu, Lapangan Merdeka tidak hanya menjadi tempat pertunjukan seni, tetapi juga simbol nyata bahwa keberagaman dapat menjadi energi pemersatu. Tepuk tangan panjang yang terus menggema menjadi tanda bahwa masyarakat Bone menerima pesan itu dengan hati terbuka.
Konser Lintas Agama pun meninggalkan jejak yang lebih dalam dari sekadar hiburan. Ia menjadi cermin bahwa toleransi bukan sekadar wacana, melainkan praktik hidup yang tumbuh dari kesediaan untuk saling mendengar, memahami, dan merayakan perbedaan dalam harmoni budaya. (*)



Tinggalkan Balasan